Warning: mysql_connect() [function.mysql-connect]: Headers and client library minor version mismatch. Headers:100508 Library:100236 in /home/u8647595/public_html/gkia.org/Resources/Classes/Database.Class.php on line 79
GKIA | Gerakan Kesehatan Ibu dan Anak

Kegiatan

  • Detail

Menteri Kesehatan: Peran strategis Masyarakat Sipil dibutuhkan dalam Pembangunan pasca MDGs

19 Aug 2015

Press release                                                                                                  Untuk dipublikasikan

 

Jakarta, 19 Agustus 2015,

Menjelang berakhirnya MDGs pada September 2015, Indonesia dipastikan tidak akan mencapai beberapa poin MDGs, diantaranya terkait dengan penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB). Padahal pada bulan September mendatang, tujuan-tujuan baru akan disepakati dalam Sustainable Development Goals (SDGs).

Terkait dengan tujuan pembangunan global yang baru atau dikenal dengan Sustainable Development Goals (SDGs), Menteri Kesehatan RI, Nila Djuwita F. Moeloek, mengungkapkan  “Tujuan Pembangunan Milenium atau MDGs akan segera digantikan dengan tujuan pembangunan global yang baru atau dikenal dengan SDGs. SDGs mengharapkan pada tahun 2030, angka kematian ibu dapat ditekan menjadi 70 / 100,000 kelahiran hidup; NOL kematian bayi baru lahir hingga balita oleh penyebab yang dapat dicegah. Angka kematian bayi baru lahir dapat ditekan menjadi 12 per 1,000 kelahiran hidup dan Angka kematian balita ditekan menjadi 25 per 1,000 kelahiran hidup, pencapaian target ini tentunya membutuhkan peranan masyarakat sipil. Saya berharap jaringan masyarakat sipil tetap akan terus berkerjasama dengan pemerintah dan jaringan serupa ada di semua provinsi Indonesia”

 “Organisasi masyarakat sipil memegang peranan penting untuk meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat, ujar Nila Djuwita F. Moeloek lebih lanjut dalam paparannya di Simposium Praktek Cerdas GKIA (19/8) di Jakarta.

Pernyataan Menteri Kesehatan mendapat sambutan baik dari Wahdini Hakim, senior program manager health-nutrition, Save the Children karena sejalan dengan temuan penelitian global tentang peran lembaga internasional dan lokal dalam mendorong kebijakan pemberian ASI  yang dilakukan di Enam negara, yaitu Bangladesh, Brazil, Indonesia, Nigeria, Filipina dan Inggris oleh Save the Children dan Universitas Dundee Skotlandia, UK.

“Secara global baru 38% balita mendapatkan ASI eksklusif. Komitmen politik negara merupakan hal mendasar dalam meningkatkan angka ini, tanpa komitmen politik semua upaya akan percuma. Studi di 6 negara termasuk Indonesia menyebutkan bahwa terdapat 5 (lima) faktor yang mendukung komitmen politik negara yaitu: Kerjasama, lingkungan yang mendukung, pelaksanaan program, advokasi-komunikasi dan dukungan tenaga kesehatan dan organisasi profesi. Kelima faktor ini lah yang dilakukan dan dikerjakan oleh masyarakat sipil yang akhirnya mampu mempengaruhi komitmen politik suatu negara”, ujar Wahdini kemudian.  

Penelitian yang dilakukan oleh sentra laktasi bekerjasama dengan pusat penelitian UI di beberapa Rumah Sakit di Jakarta, Banten dan Jawa Barat secara khusus mendapatkan besarnya peran masyarakat sipil dalam pemberian ASI di Indonesia.

“Dukungan menyusui di rumah sakit di Indonesia sebenarnya telah ada dan memiliki kebijakan tertulis, namun masih terkendala di pengetahuan dan ketrampilan tenaga kesehatan, pedoman klinis masalah menyusui dan kurangnya koordinasi antar pemangku kepentingan. Namun gerakan masyarakat sipil yang membentuk komunitas pendukung ibu menyusui atas inisiatif sendiri, mengembangkan dan menjangkau ibu hamil dan ibu menyusui dengan caranya masing-masing yang dilakukan secara swadaya dan sukarela sangat membantu kerja pemerintah. Aktivitas-aktivitas masyarakat inilah yang ikut membuat ASI popular di masyarakat sehingga menciptakan demand menyusui di masyarakat.” Ujar Fransisca Handy, pemerhati kesehatan dari Sentra Laktasi Indonesia dan Pusat Penelitian UI

Selain dalam dukungan menyusui dan pemberian ASI, peranan masyarakat sipil di beberapa provinsi juga terjadi misalnya seperti penggunaan SMS sehat di kabupaten Kupang dan Malaka, lelaki peduli keluarga di Lampung, Pijat Bayi di kota Bogor,  SDIDTK di Mimika,  perawatan tali pusat BBL di  Jogja dan Kalimantan Tengah,  peranan forum masyarakat madani yang diinsiasi oleh Muhamadiyah di 30 kabupaten dalam rangka menyelamatkan ibu dan bayi baru lahir, promosi melalui majelis taklim di Kab Bandung, dan promosi kesetaraan gender di Kabupaten Gowa.

“Tidak kurang dari 50 praktik terbaik tentang peran masyarakat sipil dari 16 provinsi kita tampilkan disini.  Kami mengganggap bahwa praktik cerdas ini terjadi karena adanya inovasi termasuk penggunaan teknologi, kepeloporan pemimpin, peningkatan kemampuan masyarakat, dan kerja sama antar sektor dalam pendidikan kesadaran” ujar Asteria Aritonang, ketua panitia simposium.

Contact Person :

Devi Fitriana- 081901016065

Heince  +62 878-7745-4652